2. Malam Kedua

[3] ~ Sebermula
Nama lengkapnya Senduansa Priadi Tirta. Dia bukan CEO, mafia, apalagi hantu. Dia hanyalah seorang laki-laki yang absurd, lumayan gila, dan hampir stres. Kendatipun demikian, dia tetap baik. Aku tidak tahu kalau menurut Om yang punya kios di lorong masuk gedung kampusku. 

Sebut saja Om Lembut, karena memang dia lembut. Aku tidak tahu persis namanya. Kecuali kiosnya yang terletak di sebelah kanan dari arah lampu merah Binturu. Sebelumnya ada penjual ayam geprek, lalu penjual parfum, barulah kios Om Lembut. 

Untuk perdana kalinya kutemukan Sendu di kios itu. Ketika itu, aku baru saja membeli sebotol air sebelum pergi ke kampus. Dari belakangku, Sendu datang menenteng galon. 

Aku sedikit kesal karena dia menerobos masuk, padahal aku sudah jelas berdiri untuk membayar belanjaanku. Tapi, aku memilih menepi dan berdiri sejajar dengannya. 

"Om," katanya. "Galonya butuh asupan," lanjutnya kemudian.

Om Lembut tertawa, Sendu juga begitu. Entah apa maksud mereka, aku hanya merasa bahwa Om Lembut dan Sendu kayaknya akrab. 

"Lima ribu, Nak," kata Om lembut. 

Sendu kemudian menatapku. Dia senyum. Aku hanya membalasnya dengan senyum kecil. Di saat yang sama, aku memastikan matanya bulat, wajahnya juga bulat, dan rambutnya gondrong. 

Sudah itu, dia membayar. Bagitu dia pergi, aku mulai mengingat-ingat wajahnya yang menurutku tidak asing. 

"Berapa, Om?" tanyaku ke Om Lembut.

"Lima ribu, Nak," jawabnya.

Aku menatap Om Lembut. Dia punya anting-anting. Di kanan atau kira ya? Aku lupa. Dia lumayan pendek, tetapi yang paling menonjol dari Om Lembut adalah caranya berbicara. Namanya juga Om Lembut. 

Komentar