Postingan

2. Malam Kedua

[3] ~ Sebermula Nama lengkapnya Senduansa Priadi Tirta. Dia bukan CEO, mafia, apalagi hantu. Dia hanyalah seorang laki-laki yang absurd, lumayan gila, dan hampir stres. Kendatipun demikian, dia tetap baik. Aku tidak tahu kalau menurut Om yang punya kios di lorong masuk gedung kampusku.  Sebut saja Om Lembut, karena memang dia lembut. Aku tidak tahu persis namanya. Kecuali kiosnya yang terletak di sebelah kanan dari arah lampu merah Binturu. Sebelumnya ada penjual ayam geprek, lalu penjual parfum, barulah kios Om Lembut.  Untuk perdana kalinya kutemukan Sendu di kios itu. Ketika itu, aku baru saja membeli sebotol air sebelum pergi ke kampus. Dari belakangku, Sendu datang menenteng galon.  Aku sedikit kesal karena dia menerobos masuk, padahal aku sudah jelas berdiri untuk membayar belanjaanku. Tapi, aku memilih menepi dan berdiri sejajar dengannya.  "Om," katanya. "Galonya butuh asupan," lanjutnya kemudian. Om Lembut tertawa, Sendu juga begitu. Entah apa maksud mereka...

1. Malam Pertama

[1] ~ Tombol Backspace. Aku mau bercerita, barangkali bisa mengobati perasaanku. Dan sebetulnya, aku tidak terlalu pandai merangkai kata, menyusun diksi-diksi bagus, dan membuatnya agar menarik untuk dibaca. Aku hanya menulis dan bercerita sesuai dengan apa yang aku yakini. Jadi, cerita ini sederhana. Aku ingin bercerita tentang seseorang yang telah membuatku sampai di titik sekarang, titik di mana aku berani menulis. Aku begitu banyak belajar dari dia, termasuk berani menyampaikan beberapa hal yang menyangkut soal perasaan.  Dulu, aku selalu membagikan tulisanku kepadanya, dan dia menegaskan bahwa tulisanku tidak menarik. Aku sedikit merasa kesal dan tidak layak untuk menulis. Namun, beberapa menit kemudian, dia menambahkan bahwa tulisanku tidak menarik baginya tapi bagus untuk menyelamatkan beberapa manusia yang kecanduan sosial media, scroll  berlebihan, memercayai isu liar sampai rela membuat akun anonim untuk memaki-maki di kolom komentar.  Saat itulah, aku meyakini ...