1. Malam Pertama

[1] ~ Tombol Backspace.

Aku mau bercerita, barangkali bisa mengobati perasaanku. Dan sebetulnya, aku tidak terlalu pandai merangkai kata, menyusun diksi-diksi bagus, dan membuatnya agar menarik untuk dibaca. Aku hanya menulis dan bercerita sesuai dengan apa yang aku yakini. Jadi, cerita ini sederhana.

Aku ingin bercerita tentang seseorang yang telah membuatku sampai di titik sekarang, titik di mana aku berani menulis. Aku begitu banyak belajar dari dia, termasuk berani menyampaikan beberapa hal yang menyangkut soal perasaan. 

Dulu, aku selalu membagikan tulisanku kepadanya, dan dia menegaskan bahwa tulisanku tidak menarik. Aku sedikit merasa kesal dan tidak layak untuk menulis. Namun, beberapa menit kemudian, dia menambahkan bahwa tulisanku tidak menarik baginya tapi bagus untuk menyelamatkan beberapa manusia yang kecanduan sosial media, scroll berlebihan, memercayai isu liar sampai rela membuat akun anonim untuk memaki-maki di kolom komentar. 

Saat itulah, aku meyakini apa yang ditegaskan olehnya ternyata benar. Barangkali cerita ini membuat kalian berhenti sejenak dari media sosial dan menambah sedikit keahlian kalian dalam membaca. Selebihnya tergantung kalian, apakah juga yakin atau tidak. Yang pasti, tulisan ini terselamatkan dari tombol Backspace.


[2] ~ Siapa Aku?
Sebelum lanjut ke ceritanya. Mungkin baiknya kujelaskan dulu siapa yang saat ini bercerita kepada kalian. Langsung saja, aku adalah Qanita Karina Yeham. Perempuan, wanita, cewek, atau apalah yang sejenis itu. Pada intinya belum bisa menyandang status sebagai Ibu. Dan, jangan sesekali memanggilku Ibu. Panggil aku Qania, atau Karin, seperti yang sering digunakan oleh Sendu.

Dulu aku semester satu, dua, tiga, empat, lima, dan kalian pasti sudah tahu sekarang aku semester berapa. Program Studi Teknik Pertambangan di kampus swasta bernama Universitas Andi Djemma Palopo. Ada yang tahu kampusku? Atau mungkin kita satu kampus?  

Aku dari Luwu Timur, Malili. Mamaku asli orang Malili, sedangkan Papaku orang Jawa Timur. Aku ingin jalan-jalan ke kampung Papa, tapi dia tidak punya banyak waktu karena sibuk bekerja. Maka dari itu, aku menundanya, mungkin lain hari. (Kalau kalian belum tahu tempat yang kusebutkan, dengan mudah bisa kalian ketahui dari Google).

Aku tidak akan banyak bercerita soal orang tuaku. Tidak menjadi kemungkinan bahwa mereka akan marah, tetapi kalian pasti paham bahwa semua manusia punya batasan untuk bercerita. Lagi pula, kesempatan ini hanya terkhusus untuk membahas tentang Sendu. 

Aku sekarang lagi ada di Palopo dikarenakan Ujian Akhir Semester (UAS) sudah berlangsung selama lima hari. Entah mengapa di setiap aku tiba di kampus, aku selalu merindu pada seseorang. Dan itu adalah Sendu. Akhir-akhir ini, dia jarang menyapaku atau pun juga senyum padaku. Padahal, kami baik-baik saja. Tidak ada masalah. Aku hanya merasa bahwa Sendu begitu banyak berubah dan sulit kuartikan sikap diamnya itu.

Tanpa berlama-lama, silahkan simak ceritanya pada bagian selanjutnya. Untuk hari ini, aku hanya bisa sampai di sini. 

[Oh ya, tinggalkan pesan kalian di kolom komentar. Atau apalah yang mungkin kalian sampaikan. Aku tidak memakan manusia, aku pasti menjawabnya selama aku masih bisa mengetik. Anggap saja, itu adalah awal perkenalan kita.]









Komentar

Postingan populer dari blog ini

2. Malam Kedua